Kamis, 06 Desember 2012

PARADIGMA PENGELOLAAN SAMPAH DI INDONESIA

Paradigma umum yang dijumpai sampai saat ini dalam pengelolaan sampah kota adalah :
1. KUMPUL – ANGKUT – BUANG.
Merupakan sistem pengelolaan konvensional dimana pengelolahan sampah yang dilakukan hanya berupa tiga tahap yaitu kumpul, angkut dan buang tanpa melalui rangkaian proses pengolahan.

2. KUMPUL – OLAH – ANGKUT – OLAH – BUANG.
Pola yang dikembangkan dalam pengelolaan persampahan pertama dengan memasukkan kegiatan pengolahan sampah mulai dari hulu sampai hilir.
Pergeseran pola pengelolaan persampahan perlu dilakukan seperti Pola Transformasi Waste to Source dan perlu dikembangkan sehingga sampah yang saat ini kita anggap sebagai sesuatu yang tidak berguna akan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna yang tinggi.
http://www.iec.co.id/wp-content/uploads/2010/04/waste_paradigm.jpg
Penanganan sampah yang terintegrasi bertujuan untuk meminimalkan atau mengurangi sampah yang terangkut menuju pemrosesan akhir. Pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan proses kumpul-angkut-buang dan proses KUMPUL – OLAH – ANGKUT – OLAH – BUANG akan menyisakan permasalahan dan kendala, antara lain untuk pembuangan akhir, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan konsep Transformasi Sampah melalui reduksi volume sampah dan penyediaan sarana fasilitas sampah untuk menghasilkan sumber daya yang bermanfaat seerti kompos dan metan sebagai bahan baku sumber energi. Melalui Transformasi Sampah selain hasil akhir dari pengelolaan yang diharapkan akan menghasilkan zero waste juga akan menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Setiap Kota di Indonesia diperkirakan pada tahun-tahun mendatang akan mengalami penambahan penduduk yang cukup besar sehingga pembuangan sampah akan mengalami peningkatan yang signifikan pula, terutama sampah organik yang merupakan jumlah sampah terbanyak.

TRANSFORMASI PENGELOLAAN SAMPAH
Dilihat dari komposisinya, maka sebagian sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati, atau secara umum dikenal sebagai sampah organik alamiah, atau sampah basah. Rata-rata sampah yang tergolong hayati ini adalah di atas 65 % dari total sampah. Melihat komposisinya yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan, khususnya sampah dapur, maka jenis sampah ini akan cepat membusuk, atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini, dan berpotensi pula sebagai sumberdaya penghasil kompos, metan dan energi.
http://www.iec.co.id/wp-content/uploads/2010/04/Mekanisme-Pemilahan-Sampah.jpg 
Gambar. Flow Chart Pengelolaan Transformasi Sampah 

Sumber: http://www.iec.co.id 

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com